Sukabumi - Bertepatan dengan peringatan Hari Hutan Internasional, upaya konkret menjaga
kelestarian hutan kembali digaungkan. Kali ini, inisiatif datang dari IPB
University melalui program FOLU Net Sink DKSHE dengan menanam 35.899 bibit
pohon di kawasan desa penyangga Taman Nasional
Gunung Halimun Salak (TNGHS), Sukabumi, Jawa Barat.
Dr. Ir.
Rinekso Soekmadi, M.Sc., F.Trop, selaku ketua pelaksana kegiatan dalam
sambutannya menegaskan bahwa kegiatan
ini bukan sekadar seremoni tanam pohon. Di baliknya, terdapat pendekatan
terencana yang menggabungkan kepentingan konservasi, mitigasi perubahan iklim,
sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Program tersebut dirancang
dengan pendekatan lanskap, yakni mengintegrasikan perlindungan keanekaragaman
hayati, peningkatan serapan karbon, dan penguatan ekonomi lokal dalam satu
kerangka kerja,” ujarnya.
Lebih
lanjut, Sekretaris Majelis Wali Amanat IPB University periode 2024-2029
tersebut mengungkapkan bahwa
keberhasilan konservasi tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan masyarakat
sehingga diperlukan pendampingan.
“Sejak awal program disusun
secara partisipatif, mulai dari penentuan lokasi dan petani sasaran, pelatihan
teknis seperti geotagging, hingga penguatan kapasitas petani dalam membuat
pupuk organik dan pestisida ramah lingkungan,” ungkapnya.
Sebanyak 1.188 petani terlibat
dalam kegiatan ini, mengelola lahan seluas hampir 270 hektare dengan menanam 29
jenis tanaman. Mayoritas bibit yang ditanam merupakan jenis Multi-Purpose Tree
Species (MPTS), seperti alpukat, durian, jeruk, kopi arabika, hingga pala.
Selain berfungsi ekologis, tanaman ini juga memiliki nilai ekonomi yang dapat
menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat sekitar.
Turut hadir Wakil Menteri
Kehutanan, Rohmat Marzuki, S, Hut, dalam
kegiatan tersebut dan menyampaikan dukungan penuh pemerintah terhadap inisiatif
ini. Ia berharap model serupa dapat direplikasi di berbagai wilayah lain,
khususnya desa-desa penyangga kawasan konservasi.
“Harapannya akan ada lebih
banyak desa penyangga yang melakukan proses seperti ini,” ujar politikus partai
Gerindra tersebut.
Sebagai bagian dari rangkaian
kegiatan, dilakukan pula penyerahan simbolis bibit kepada perwakilan empat
desa, yakni Mekarjaya, Cipeuteuy, Kabandungan, dan Cihamerang. Aksi simbolis
tersebut dilanjutkan dengan penanaman pohon oleh Wakil Menteri sebagai penanda dimulainya
implementasi program secara menyeluruh.
Kegiatan ini juga membuka
ruang dialog antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Berbagai isu
mengemuka, mulai dari kepastian pasar bagi hasil pertanian, pengelolaan sumber
daya alam, hingga tantangan alih fungsi lahan.
Menanggapi hal tersebut, Wakil
Rektor IPB Dr. Heti Mulyati menegaskan kesiapan institusinya dalam mendukung
keberlanjutan program melalui penguatan sistem hilirisasi dan inovasi, termasuk
melalui pengembangan Science Techno Park (STP), bahkan menyatakan kesiapan
untuk memperluas program hingga ke seluruh wilayah Jawa Barat.
“IPB siap
jika harus memperluas area cakupan wilayah ke seluruh Jawa Barat. Kita
punya resource yang cukup,” tegasnya.
Di sisi lain, Kementerian
Kehutanan juga mendorong kolaborasi lintas sektor. Kerja sama dengan Foretika menjadi salah satu langkah strategis
untuk melibatkan perguruan tinggi dalam mendukung agenda kehutanan nasional
secara lebih luas dan multidisiplin.
Program ini menunjukkan bahwa
konservasi tidak lagi dapat dilakukan secara sektoral. Dibutuhkan pendekatan
kolaboratif yang menyatukan ilmu pengetahuan, kebijakan, dan partisipasi
masyarakat. Dengan model seperti ini, desa penyangga tidak hanya menjadi benteng
terakhir perlindungan kawasan hutan, tetapi juga menjadi pusat pertumbuhan
ekonomi berbasis keberlanjutan.
Langkah yang dilakukan IPB
ini menjadi contoh bahwa upaya mencapai target FOLU Net Sink 2030 bukan sekadar
wacana, melainkan dapat diwujudkan melalui aksi nyata yang terukur, inklusif,
dan berkelanjutan.
.jpg)
Media Sosial