![]() |
| Dokumentasi istimewa. |
Wanadri menargetkan ekspedisi "Ibu Karang" ini tidak hanya untuk pemulihan fisik, tetapi juga sebagai langkah advokasi data kepada pemerintah guna melahirkan kebijakan perlindungan laut yang lebih ketat.
Ekosistem bawah laut Pulau Buru,
Maluku, dilaporkan dalam kondisi memprihatinkan akibat praktik penangkapan ikan
menggunakan bahan peledak atau bom ikan.
Menanggapi kerusakan masif
tersebut, tim penyelam perempuan Wanadri bersama Badan Riset dan Inovasi
Nasional (BRIN) akan meluncurkan ekspedisi restorasi untuk menanam ribuan
fragmen karang pada Juni mendatang.
Ketua Tim Ekspedisi Wanadri, Endah
Sulistianti, mengungkapkan potret memilukan hasil survei lapangan yang
menunjukkan bahwa kerusakan karang telah merata di hampir seluruh titik
perairan Pulau Buru.
"Yang pasti keliatan
sudah hancur dan berserakan. Itu agak masif di semua tempat," ujar Endah
saat ditemui dalam acara Deep and Extreme Indonesia (DXI) di Jakarta Convention
Center, Minggu (26/4/2026).
Kerusakan fisik akibat
ledakan bom diperparah oleh ancaman pencemaran kimiawi. Aktivitas tambang emas
di wilayah tersebut diduga telah mencemari seluruh area laut dengan zat
berbahaya serta mikroplastik.
Penyelamatan ekosistem ini,
menurut Endah, mendesak dilakukan agar fungsi laut sebagai penyokong kehidupan
masyarakat tidak lumpuh total.
Wanadri menargetkan ekspedisi
"Ibu Karang" ini tidak hanya untuk pemulihan fisik, tetapi
juga sebagai langkah advokasi data kepada pemerintah guna melahirkan kebijakan
perlindungan laut yang lebih ketat.
"Kita sudah koordinasi
lintas sektoral. Mudah-mudahan, apa yang kita dapat nanti, di pendataan,
ataupun di riset-riset, dan restorasi terumbu karang ini, bisa memberikan
dampak perbaikan dalam hal kebijakan," tegas Endah.
Sementara peneliti BRIN, Rita
Rachmawati menyebut kondisi karang di Pulau Buru berada di titik kritis.
Selain aksi brutal bom ikan,
faktor alam seperti sedimentasi tinggi dan perubahan iklim disebut turut andil
dalam memperburuk degradasi laut Maluku.
"Sedimentasi pada
umumnya meningkat seiring dengan bertambahnya aktivitas manusia dalam suatu
ekosistem, terutama ketika intensitas pemanfaatan lahan dan sumber daya alam
semakin tinggi. Juga ada perubahan iklim yang menambah perubahan pola sedimentasi,"
jelas Rita.
Ia juga mewanti-wanti bahaya
mikroplastik yang kini mulai mendominasi perairan akibat akumulasi sampah
selama bertahun-tahun.
"Kalau untuk cemaran, dia sifatnya pelan-pelan, tidak terlihat," pungkasnya.
Dialog yang dipandu oleh aktor Indonesia, Ramon Y. Tungka, berlangsung secara interaktif dan tertib. Setelah sesi diskusi utama, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang melibatkan para peserta. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama.

Media Sosial