![]() |
| Sumber ilustrasi (ChatGPT Images) |
Masa depan manusia mungkin tetap menjadi kehendak Tuhan, tapi masa depan kesehatan lingkungan dunia tetap berada di tangan manusia.
Plastik, benda paling agung yang pernah ditemukan manusia, awalnya hadir sebagai solusi untuk membantu dan memudahkan aktivitas manusia. Lihat saja di sekeliling kita, semua benda-benda terbuat dari plastik, mulai dari perabotan dapur, peralatan elektronik, hingga mainan anak-anak, peralatan makan dan sebagainya. Plastik dengan segala kemudahannya kemudian membuat manusia semakin bergantung padanya.
Material ini dianggap sebagai inovasi luar biasa pada masanya, mampu menggantikan bahan-bahan seperti logam, kaca, dan kayu yang lebih mahal, berat, dan sulit diproses. Tak heran, plastik begitu cepat diadopsi di hampir semua sektor industri, dari kesehatan dengan peralatan medis sekali pakai, hingga otomotif dengan komponen kendaraan yang lebih ringan dan efisien.
Sekilas, awal kemunculan plastik merupakan sebuah upaya untuk mengurangi ketergantungan manusia pada penggunaan kertas. Ketika permintaan kertas terus meningkat, otomatis penebangan pohon juga akan ikut meningkat dan marak. Hal ini dikarenakan bahan baku pembuatan kertas berasal dari pohon. Namun, lambat laun, plastik yang awalnya hadir sebagai jawaban atas persoalan yang dihadapi manusia kala itu, menjelma menjadi momok yang memberi ancaman bagi manusia itu sendiri – sampah plastik.
Tak kala sampah plastik mulai menumpuk, apalagi komponen penyusunnya yang sangat sulit terurai, hal ini kemudian membuat sampah plastik menjadi problem yang sangat pelik sampai saat ini. Memang tak bisa dipungkiri bahwa kita semua nyatanya memang sulit melepaskan diri dari kebutuhan menggunakan plastik. Polimer sintetis tersebut terlanjur mengikuti dan menjebak semu sisi kehidupan umat manusia. Kita tidak tahu, apakah kelak ada teknologi yang mampu dan benar-benar bisa memanfaatkan sampah plastik ini sepenuhnya.
Baca juga: Krisis Ekologi dari dalam Lemari
Dari pada menunggu hal-hal yang tidak jelas,
maka langkah bijak yang dapat dilakukan adalah mengurangi penggunaan dan
mengendalikan pemakaian plastik sejak dini, karena bagaimana pun, sampah plastik
merupakan tantangan yang memprihatinkan dan sebagian besar disebabkan oleh
pertumbuhan, kemajuan, dan modernisasi. Meminjam bahasa Ernest von Weizsaecker,
“sejalan dengan tumbuh dan berkembangnya komunitas dan peradaban manusia
sebagai dampak Revolusi Industri, demikian pula tekanan terhadap lingkungan
mulai terjadi. Plastik merupakan salah satu bukti kemajuan peradaban manusia di
muka bumi
Namun, bukti
kemajuan tersebut justru memberikan dampak negatif yang sangat besar bagi
kelangsungan hidup manusia maupun mahluk hidup secara keseluruhan. Di lansir Our World in Data, disebutkan bahwa sejak
tahun 1950 sampai tahun 2015 angka produksi sampah plastik meningkat sangat
signifikan
Artinya,
terdapat peningkatan 190 kali lipat atau sekitar 5,8 juta ton per tahun. Terkait
peningkatan timbunan sampah plastik, berdasarkan data yang
dirilis Minderoo Foundation bertajuk Plastic Waste Makers Index pada
Februari 2023 menyebutkan bahwa dunia menghasilkan 139 juta metrik ton sampah
sekali pakai pada 2021, jumlah ini 6 juta metrik ton lebih banyak dari tahun
2019
Fakta tersebut menunjukan bahwa lonjakan ini menjadi peringatan serius bahwa ketergantungan manusia terhadap plastik sekali pakai masih sangat tinggi, meskipun telah banyak kampanye dan upaya untuk mengurangi penggunaannya. Sampah plastik sekali pakai, yang meliputi produk seperti kantong belanja, sedotan, pembungkus makanan, dan botol air, merupakan salah satu penyumbang terbesar dalam pencemaran lingkungan.
Produk-produk ini biasanya dirancang untuk digunakan dalam hitungan menit atau jam, tetapi meninggalkan dampak lingkungan yang bertahan hingga ratusan tahun. Sebagian besar plastik ini berakhir di tempat pembuangan akhir, terbakar di insinerator, atau mencemari lingkungan daratan dan lautan.
Terkait sampah plastik yang berasal dari
kemasan sekali pakai, di Indonesia, kantong
plastik menjadi barang konsumsi sehari-hari. Data dari Making Ocean Plastics
Free
Baca juga: Manusia Plastik
Saat ini, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil sampah terbesar ke lautan. Untuk mengantisipasi kondisi yang semakin buruk, pemerintah Republik Indonesia telah melakukan berbagai upaya serta berkomitmen untuk mengurangi sampah hingga 30 persen dan mengelola sampah plastik hingga 70 persen pada tahun 2025.
Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut pun diterbitkan, yang di dalamnya memuat lima Rencana Aksi Nasional Pengurangan Sampah Laut. Salah satu strategi yang dilaksanakan adalah melakukan upaya perubahan kesadaran dan perilaku masyarakat serta mengurangi masukan sampah yang bersumber dari darat.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, kekayaan sumber daya laut Indonesia menjadi jati diri dan tulang punggung perekonomian negara. Dengan 70 persen populasi tinggal di daerah pesisir, ekonomi laut menghasilkan seperempat dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara. Dengan demikian, polusi pada skala ini mengancam industri perikanan dan pariwisata. Hal ini akan berdampak pada hancur dan rusaknya keanekaragaman hayati laut, serta mengancam habitat bakau, lamun, dan terumbu karang yang luas.
Sungguh sebuah
ironi ketika Indonesia yang dalam Konferensi Kelautan Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) pada 8 Juni 2017 di New York telah berkomitmen untuk
mengurangi sampah plastik di laut hingga 70 persen pada tahun 2025, ternyata
belum memiliki data pencemaran plastik di laut. Mirisnya lagi, Indonesia
menjadi salah satu negara yang ikut berkontribusi terhadap meningkatnya sampah
plastik dunia. Tercatat jumlah sampah plastik dari Indonesia yang bocor ke
lautan mencapai 56.333 metrik ton setiap tahun
Meskipun demikian, upaya mengurangi timbunan sampah plastik terus dilakukan. Pada November 2024, pertemuan kelima Komite Negosiasi Antar Pemerintah (Intergovernmental Negotiating Committee/INC) untuk mengembangkan instrumen hukum internasional yang mengikat mengenai pencemaran plastik yang berlangsung di Busan, Korea Selatan.
Perjalanan plastik dari solusi menjadi polusi adalah pelajaran berharga bagi kita semua. Tidak ada yang menyangka bahwa manfaat jangka pendek plastik akan berujung pada masalah jangka panjang yang rumit.
Namun, upaya tersebut tidak menemukan titik terang atau gagal menyepakati perjanjian internasional untuk mengurangi pencemaran plastik global. Perundingan terpecah antara negara-negara yang didominasi oleh kepentingan negara-negara penghasil plastik besar dan industri dan negara-negara korban bukan produsen plastik yang paling rentan terdampak pencemaran plastik.
Ironinya, Indonesia yang menjadi salah satu negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia, justru tidak berada dalam satu barisan dengan negara-negara yang mendukung pendekatan komprehensif untuk mengakhiri polusi plastik. Dokumen negosiasi yang disampaikan delegasi Pemerintah Indonesia terhadap draf naskah perjanjian (non-paper) menyangkut pasal ke-6 tentang suplai menyatakan penolakan untuk mengurangi produksi plastik. Alasannya, kebutuhan produk plastik dalam negeri masih tinggi dan konsumsi plastik per kapita masih cukup rendah dibandingkan dengan rata-rata global.
Baca juga: Lingkaran Setan Sampah Plastik
Pada akhirnya, perjalanan plastik dari solusi menjadi polusi adalah pelajaran berharga bagi kita semua. Tidak ada yang menyangka bahwa manfaat jangka pendek plastik akan berujung pada masalah jangka panjang yang rumit. Plastik membutuhkan waktu ratusan bahkan ribuan tahun untuk terurai di lingkungan, sehingga limbah yang dihasilkan terus menumpuk dari tahun ke tahun. Lebih buruk lagi, sebagian besar plastik yang diproduksi sejak awal tidak pernah didesain untuk benar-benar dihancurkan atau didaur ulang.
Perjalanan plastik yang awalnya sebagai solusi kemudian menjelma sebagai polusi yang mengancam kehidupan di muka bumi adalah peringatan keras bahwa inovasi tanpa pertimbangan terhadap aspek lingkungan dapat menyebabkan bencana. Inovasi teknologi, betapapun canggihnya, harus selalu mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Jika tidak, kita hanya akan mewariskan masalah yang semakin berat bagi generasi mendatang. Masalah plastik ini adalah peringatan bahwa keseimbangan antara kemajuan dan keberlanjutan harus selalu menjadi prioritas utama dalam setiap langkah yang kita ambil.

Media Sosial