![]() |
| Ilustrasi sampah pakaian (Sumber: pixabay.com). |
Setiap lemari menyimpan lebih dari sekadar pakaian; ia menyimpan jejak karbon, air, dan eksplotasi tenaga kerja yang tak terlihat.
Ketika menyebut plastik, kecenderungan banyak orang akan membayangkan botol air, kantong belanja atau kantong kresek, serta kemasan makanan sekali pakai atau sachet. Jarang sekali atau hampir tidak pernah terbayangkan dalam benak banyak orang terkait pakaian yang setiap hari menempel di tubuh kita. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, pakaian yang kita kenakan juga terbuat dari plastik, tepatnya serat sintetis. Banyak pakaian yang dijual terbuat dari serat sintetis seperti poliester, nilon, akrilik, dan spandeks, yang semuanya berasal dari plastik. Artinya, ketika berbicara tentang plastik, maka pakaian yang kita kenakan juga tidak bisa dikesampingkan.
Sebuah publikasi pada nature.com bertajuk How Fast Fashion can cat
its Staggering Environmental Impact pada tahun
Fast fashion disebut demikian sebagian karena industri mode kini merilis lini baru setiap minggu, padahal sebelumnya hal ini terjadi empat kali setahun. Fast fashion atau mode cepat merupakan model bisnis dalam industri pakaian yang melibatkan produksi pakaian dengan cepat, murah, dan tren terkini. Model ini melibatkan siklus produksi yang sangat cepat; pakaian dirancang, diproduksi, dan dijual dalam waktu singkat untuk menanggapi perubahan tren mode yang terjadi dengan cepat di pasar. Industri mode selalu mengikuti perkembangan zaman, memperkenalkan tren baru yang terus berganti dengan cepat, kini telah menjadi fenomena global.
Baca juga: Lingkaran Setan Sampah Plastik
Istilah fast fashion pertama kali digunakan pada awal tahun 1990-an ketika Zara mendarat di New York. Fast fashion dicetuskan oleh New York Times untuk menggambarkan misi Zara yang hanya membutuhkan waktu 15 hari bagi selembar pakaian untuk beralih dari tahap desain hingga dijual di toko. Kini, istilah tersebut merujuk pada produksi pakaian dengan model terbaru dalam waktu singkat dan harga terjangkau. Meskipun menarik dari segi aksesibilitas dan variasi produk, dampaknya terhadap lingkungan tidak bisa diabaikan. Salah satu aspek paling mencemaskan dari fast fashion adalah penggunaan bahan berbasis plastik yang menghasilkan limbah berlimpah dan mencemari planet kita.
Kekuatan bahan sintetis ini juga menjadi bumerang bagi lingkungan. Serat plastik tidak terurai secara alami seperti serat organik, seperti kapas atau wol. Sebaliknya, plastik bisa memakan waktu ratusan hingga ribuan tahun untuk terurai sepenuhnya. Selain itu, proses produksi serat sintetis juga melibatkan penggunaan bahan kimia berbahaya dan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar, yang memperburuk dampak lingkungan dari fast fashion. Banyak pakaian dalam industri fast fashion terbuat dari bahan sintetis seperti poliester, nilon, dan akrilik. Bahan-bahan ini diproduksi dari minyak bumi, yang merupakan sumber daya tak terbarukan, dan membutuhkan proses produksi yang menghasilkan emisi karbon tinggi. Poliester, sebagai contoh, adalah salah satu serat paling banyak digunakan di industri ini, mencakup sekitar 60 persen dari total produksi kain global. Karena poliester adalah jenis plastik, pakaian berbahan ini membutuhkan ratusan tahun untuk terurai di lingkungan alam.
Fast fashion juga memperburuk masalah sampah plastik dengan menciptakan budaya konsumsi yang berlebihan. Pakaian yang terbuat dari bahan murah tidak dirancang untuk bertahan lama, baik dari segi kualitas maupun tren mode.
Salah satu
alasan utama fast fashion begitu diminati adalah karena konsumen dapat
membeli lebih banyak pakaian dengan harga terjangkau. Namun, karena tren terus
berganti, banyak dari pakaian ini berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA)
dalam waktu yang relatif singkat. Sebagai contoh, tempat pembuangan akhir (TPA)
tekstil nyatanya telah meningkat sekitar 40 persen sejak tahun 2000, dan
masalah diperparah dengan sebagian besar fast fashion terbuat dari bahan
sintetis yang tidak dapat terurai secara hayati
Fast fashion juga memperburuk masalah sampah plastik dengan menciptakan budaya konsumsi yang berlebihan. Pakaian yang terbuat dari bahan murah tidak dirancang untuk bertahan lama, baik dari segi kualitas maupun tren mode. Akibatnya, konsumen cenderung membeli pakaian dalam jumlah besar dan membuangnya setelah dipakai hanya beberapa kali. Ellen MacArthur Foundation, sebuah yayasan amal yang mempromosikan gagasan ekonomi sirkuler di Inggris, melaporkan setiap detik, satu truk sampah penuh dengan tekstil dibuang ke tempat pembuangan akhir atau dibakar. Lebih dari separuh pakaian yang diproduksi dalam setahun akan berakhir di tempat sampah dalam waktu kurang dari 12 bulan. Senada dengan laporan di atas, badan PBB untuk urusan lingkungan atau UNEP, menyebutkan bahwa setiap detik, sampah tekstil yang setara dengan satu truk sampah dibuang ke tempat pembuangan akhir atau dibakar. Jika tidak ada perubahan, pada tahun 2050 industri mode akan menghabiskan seperempat anggaran karbon dunia.
Model bisnis fast fashion, yang menekankan kecepatan dan efisiensi dengan mengorbankan keberlanjutan, memunculkan sisi gelap bagi lingkungan, pekerja, dan konsumen. Dari sudut pandang lingkungan, fast fashion dinilai sangat boros sumber daya. Karena produksi pakaian murah membutuhkan banyak air, energi, dan bahan baku.
Baca juga: Saat Plastik Menjadi Ancaman
Laporan United
Nation Environment Program
Laporan Ellen MacArthur Foundation
Selain menghasilkan limbah, dampak dari fast fashion juga meluas ke masyarakat, khususnya dalam bentuk pelanggaran hak-hak buruh. Tidak sedikit merek fast fashion mengalihdayakan produksi ke negara-negara dengan biaya tenaga kerja rendah, di mana para buruh sering kali dibayar dengan upah yang sangat rendah dan bekerja dalam kondisi yang tidak aman.
Di samping itu, fast fashion bisa mendorong perilaku konsumsi yang berlebihan dan pendekatan sekali pakai terhadap pakaian. Dengan koleksi terbaru yang dirilis setiap beberapa minggu, konsumen tergoda untuk terus membeli item-item terbaru untuk tetap mengikuti trend mode. Akibatnya, banyak orang hanya mengenakan pakaian mereka satu hingga tiga kali saja sebelum membuangnya atau membiarkannya tertimbun di lemari.
Baca juga: Manusia Plastik
Fast fashion membawa banyak keuntungan dalam hal kenyamanan dan gaya, tetapi dengan harga yang harus dibayar oleh lingkungan. Sampah plastik yang dihasilkan dari bahan sintetis tidak hanya mencemari daratan, tetapi juga laut, serta berkontribusi terhadap krisis mikroplastik yang semakin sulit diatasi. Sebagai kritik atas fast fashion, mode lambat atau slow fast menawarkan solusi bagi keberlanjutan lingkungan di industri mode. Mengurangi kecepatan produksi, mengutamakan kualitas, keunikan dan eksklusivitas produk, serta memberdayakan pengrajin tradisional menjadi ciri khas mode lambat. Ini menjadi strategi untuk melawan tren mode cepat yang dikritik karena dampak lingkungan.
Fast fashion membawa banyak keuntungan dalam hal kenyamanan dan gaya, tetapi dengan harga yang harus dibayar oleh lingkungan. Sampah plastik yang dihasilkan dari bahan sintetis tidak hanya mencemari daratan, tetapi juga laut, serta berkontribusi terhadap krisis mikroplastik yang semakin sulit diatasi.
Merujuk pada
pendapat Kate Fletcher, Profesor Mode dan Desain Keberlanjutan London College
Fashion, konsep slow fashion bukan semata-mata perlawanan atas fast
fashion. Terinspirasi dari gerakan slow food yang diinisiasi Carlo
Petrini pada 1986, slow fashion menampilkan aktivitas mode untuk
mempromosikan keberagaman dan budaya dengan kesadaran akan keterbatasan
biofisik. Dalam bukunya berjudul “Fashion and Sustainability: Design for
Change”
Sebagai paragraf penutup, perancang busana terkenal yang dianggap sebagai salah satu figur dalam dunia fashion Prancis abad ke-20, Yves Henri Donat Mathieu Saint Laurent (1936-2008), mengatakan bahwa “mode akan memudar dan gaya itu abadi”. Apa yang disampaikan Laurent tersebut mengandung pesan bahwa seiring zaman yang terus berubah, mode pun ikut berubah dan memudar. Pakaian yang dikenakan pada masa lalu dan hari ini, tentunya berbeda dari segi mode, di masa depan pun demikian, akan hadir mode-mode terbaru yang menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan tentunya dengan kreatifitas para perancang busana. Apabila kita terus mengikuti mode, maka tumpukan pakaian yang tak terpakai akan menumpuk di dalam lemari yang pada akhirnya dibuang sebagai sampah limbah pakaian.

Media Sosial