| Sumber: Dokumentasi Pribadi |
Antonio Gramsci pernah menulis bahwa setiap orang
adalah intelektual, tetapi tidak semua orang menjalankan fungsi intelektual
dalam masyarakat. Kalimat sederhana itu seolah menemukan wujudnya dalam
perjalanan hidup David Efendi.
Lahir dan tumbuh di Lamongan, Jawa Timur, kemudian
menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), menyelesaikan
pendidikan doktor, mendirikan Rumah Baca Komunitas (RBK), serta terus
menyuarakan kepedulian terhadap demokrasi dan lingkungan, David memperlihatkan
bahwa menjadi intelektual bukanlah soal gelar, melainkan tentang keberanian
menjadikan ilmu sebagai alat untuk membebaskan masyarakat.
Perjalanannya bermula dari Lamongan, sebuah ruang sosial
yang membentuk kesadarannya tentang arti kehidupan yang sederhana. Hamparan
sawah, tambak, dan kehidupan masyarakat desa mengajarkannya bahwa manusia tidak
pernah hidup terpisah dari alam. Apa yang terjadi pada tanah, air, dan hutan,
pada akhirnya akan menentukan nasib manusia sendiri. Pengalaman inilah yang
kemudian menjelma menjadi kesadaran ekologis yang terus mengiringi perjalanan
intelektualnya.
Ketika memasuki dunia akademik di Yogyakarta, kesadaran
itu memperoleh bahasa yang lebih sistematis. Kampus memberinya ruang untuk
membaca politik, demokrasi, dan relasi kuasa. Namun, David tampaknya tidak
pernah melihat ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang berhenti di ruang kuliah.
Sebaliknya, ilmu harus kembali kepada masyarakat. Dalam hal ini, perjalanan
hidupnya mengingatkan pada konsep "intelektual
organik" Gramsci: seorang intelektual yang tidak hidup di
menara gading, melainkan tumbuh bersama masyarakat, memahami persoalan mereka,
dan ikut memperjuangkan perubahan sosial.
Sebagai dosen, David menjalankan fungsi akademiknya
melalui pengajaran dan penelitian. Namun, ia tampaknya menyadari bahwa
universitas sering kali memiliki tembok-tembok yang membatasi ilmu hanya
beredar di antara jurnal, seminar, dan ruang kelas. Kesadaran inilah yang
kemudian menemukan bentuk konkret melalui pendirian Rumah Baca Komunitas (RBK).
Di sinilah gagasan Paulo
Freire terasa relevan. Dalam Pedagogy of the Oppressed,
Freire mengkritik pendidikan yang hanya “menabungkan” pengetahuan kepada
peserta didik. Pendidikan, menurutnya, seharusnya membangun dialog dan
membangkitkan kesadaran kritis. Rumah Baca Komunitas dapat dipahami sebagai
ruang yang menjalankan semangat tersebut. Buku tidak diperlakukan sebagai benda
mati, tetapi sebagai pintu masuk menuju percakapan, refleksi, dan tindakan
sosial. Membaca bukanlah tujuan akhir, melainkan awal untuk memahami dunia dan
mengubahnya.
Rumah Baca Komunitas juga mengingatkan pada kritik Ivan Illich terhadap institusi
pendidikan formal. Illich berpendapat bahwa belajar tidak selalu harus
berlangsung di sekolah; masyarakat dapat membangun ruang-ruang belajar yang
lebih bebas, egaliter, dan berbasis kebutuhan komunitas. Dalam perspektif ini,
RBK bukan sekadar perpustakaan kecil, tetapi sebuah learning commons –
ruang publik tempat pengetahuan dimiliki bersama dan diproduksi melalui
pengalaman kolektif.
Namun, literasi yang dibangun David tidak berhenti pada
persoalan pendidikan. Ia berkelindan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Hubungan ini mengingatkan pada pemikiran Murray
Bookchin, tokoh social ecology, yang berargumen bahwa
krisis lingkungan tidak dapat dipisahkan dari struktur sosial yang timpang.
Kerusakan alam bukan sekadar akibat kesalahan teknis dalam mengelola sumber
daya, tetapi juga lahir dari relasi kuasa, eksploitasi ekonomi, dan
ketidakadilan politik.
Cara pandang seperti itu tampak selaras dengan keyakinan
bahwa menjaga lingkungan bukan hanya soal menanam pohon atau melestarikan
hutan, tetapi juga membangun masyarakat yang kritis terhadap kebijakan publik,
memahami hak-hak ekologisnya, dan berani memperjuangkan ruang hidupnya. Dalam
konteks ini, literasi menjadi bagian dari gerakan ekologis.
Kesadaran ekologis tersebut juga memiliki resonansi
dengan pemikiran Henry David Thoreau.
Melalui Walden, Thoreau menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan alam
bukanlah hubungan dominasi, melainkan hubungan yang memungkinkan manusia menemukan
kembali makna hidupnya. Alam bukan sekadar sumber daya ekonomi, tetapi ruang
etis tempat manusia belajar tentang kesederhanaan, kebebasan, dan tanggung
jawab. Nilai-nilai seperti ini tampak hidup dalam cara David memandang
pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan, masyarakat, dan lingkungan.
Sebagai akademisi, David juga memperlihatkan bahwa
berpikir adalah bentuk tanggung jawab moral. Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa salah satu
penyebab lahirnya berbagai bentuk ketidakadilan adalah hilangnya kemampuan
manusia untuk berpikir secara kritis. Dalam dunia yang dipenuhi arus informasi
cepat, propaganda, dan polarisasi politik, kemampuan membaca, berdialog, dan
mempertanyakan menjadi semakin penting. Rumah Baca Komunitas, dalam pengertian ini,
bukan hanya tempat membaca buku, tetapi ruang untuk melatih kemampuan berpikir
yang menjadi fondasi kehidupan demokratis.
Perjalanan doktoralnya kemudian menjadi simbol bahwa
belajar adalah proses yang tidak pernah selesai. Gelar doktor bukanlah mahkota
intelektual, melainkan pengingat bahwa setiap jawaban ilmiah selalu melahirkan
pertanyaan baru. Semangat belajar sepanjang hayat ini sejalan dengan pandangan
filsuf John Dewey yang
melihat pendidikan bukan sebagai persiapan menuju kehidupan, melainkan kehidupan
itu sendiri. Belajar adalah proses terus-menerus untuk memperbaiki cara manusia
memahami dunia.
Yang menarik dari perjalanan David Efendi adalah
kemampuannya menghubungkan tiga ruang yang sering kali berjalan
sendiri-sendiri: universitas, komunitas, dan lingkungan. Di kampus, ia
mengembangkan pengetahuan. Di Rumah Baca Komunitas, ia menyebarkan pengetahuan.
Melalui kepeduliannya terhadap isu lingkungan, ia memperjuangkan agar
pengetahuan itu memiliki dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.
Di tengah zaman ketika keberhasilan sering diukur dari
jabatan, gelar, atau popularitas, perjalanan David menawarkan ukuran yang
berbeda. Keberhasilan bukan sekadar menjadi profesor, doktor, atau akademisi
yang banyak menulis, melainkan sejauh mana ilmu pengetahuan mampu menghidupkan
masyarakat, memperluas ruang demokrasi, dan menjaga keberlanjutan kehidupan.
Barangkali, di sinilah seluruh perjalanan itu bertemu.
Gramsci mengajarkan keberpihakan intelektual kepada masyarakat. Freire
mengajarkan pendidikan sebagai pembebasan. Illich mengingatkan pentingnya ruang
belajar komunitas. Bookchin menegaskan bahwa keadilan sosial dan keadilan
ekologis tidak dapat dipisahkan. Arendt menunjukkan pentingnya berpikir sebagai
tanggung jawab moral. Sementara Thoreau mengajak manusia kembali menemukan
makna hubungannya dengan alam.
Perjalanan
David Efendi memperlihatkan pada kita semua bahwa gagasan-gagasan besar
tersebut tidak selalu harus hidup dalam buku-buku filsafat. Gagasan itu dapat
menjelma menjadi tindakan nyata: mengajar di ruang kelas, menyelesaikan
pendidikan doktor dengan tekun, mendirikan Rumah Baca Komunitas, membangun
budaya membaca, dan menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan berarti
menjaga masa depan bersama.
Pada
akhirnya, intelektual yang paling bermakna bukanlah mereka yang hanya mampu
menjelaskan dunia, melainkan mereka yang membantu masyarakat memahami, merawat,
dan mengubahnya menjadi tempat yang lebih adil bagi semua. Selamat atas gelar
doktornya, Cak!
Media Sosial