Ad Code

Responsive Advertisement

Chronicles dan Narasi Keindonesiaan

Sumber: Ilustrasi AI

Mimpi besar yang dibawa Chronicles bukanlah menjadikan Indonesia sekadar negara yang kaya. Mimpi itu jauh lebih ambisius, yakni menjadikan Indonesia bangsa yang mampu mengubah kekayaan fenomenanya menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi kebijaksanaan, dan kebijaksanaan menjadi peradaban.

Ada sebuah ironi besar dalam cara Indonesia memandang dirinya sendiri. Kita sering mengatakan bahwa Indonesia adalah negeri kaya, tetapi kekayaan itu lebih sering dipahami sebagai komoditas daripada sebagai sumber pengetahuan.

Hutan dilihat sebagai kayu, laut dilihat sekedar jumlah ikan yang bisa diekspor, gunung sebagai sumber mineral, rempah sebagai komoditas perdagangan, serta keanekaragaman hayati sebagai potensi ekonomi. Padahal di balik semua itu terdapat sesuatu yang jauh lebih fundamental: Indonesia adalah laboratorium alam yang sangat luar biasa, bahkan salah satu laboratorium alam terpenting di planet ini.

Gagasan inilah yang terasa kuat dalam berbagai percakapan Bagus Muljadi melalui Chronicles. Kanal tersebut bukan sekadar siniar yang menghadirkan akademisi untuk berbicara tentang bidang keilmuannya. Chronicles perlahan membangun sebuah pertanyaan yang lebih besar, yaitu bagaimana jika Indonesia tidak lagi sekadar menjadi objek penelitian dunia, tetapi menjadi salah satu tempat utama dunia untuk melahirkan pengetahuan baru?

Pertanyaan itu bukan utopia, melainkan memiliki jejak sejarah.

Dalam episode Chronicles bertajuk “Jagad Pengetahuan”, Bagus Muljadi menegaskan kembali narasi bahwa Indonesia pernah menjadi salah satu laboratorium alam terpenting bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern. Indonesia bukan hanya tempat para ilmuwan datang mengambil spesimen, membuat peta, atau mengamati gunung api. Kepulauan ini menjadi tempat berbagai pertanyaan besar tentang kehidupan dan bumi dirumuskan.

Kita dapat memulainya dari Alfred Russel Wallace. Selama delapan tahun menjelajahi Kepulauan Melayu, Wallace melakukan puluhan perjalanan dan mengumpulkan sekitar 25.000 spesimen, lebih dari seribu di antaranya kemudian dianggap baru bagi ilmu pengetahuan. Pengamatannya di Nusantara berkontribusi besar terhadap perkembangan pemikirannya mengenai biogeografi dan evolusi.

Menariknya, pengalaman Wallace menunjukkan bahwa keunikan Indonesia bukan hanya terletak pada jumlah spesiesnya, tetapi pada konfigurasi yang memungkinkan alam menghasilkan pertanyaan ilmiah yang tidak mudah ditemukan di tempat lain.

Hal serupa terjadi dalam sejarah kedokteran. Di Batavia (sekarang Jakarta), Christiaan Eijkman melakukan penelitian mengenai beri-beri. Eksperimennya pada ayam membawanya pada pemahaman bahwa sesuatu yang terdapat pada lapisan beras – yang hilang ketika beras dipoles – memiliki peranan penting dalam mencegah penyakit tersebut. Penelitian di Jawa itu kemudian menjadi salah satu tonggak sejarah penemuan vitamin.

Artinya, Indonesia tidak sekadar menyediakan raw material bagi ilmu pengetahuan, tetapi juga menyediakan fenomena. Dan, fenomena adalah bahan bakar utama ilmu.  

Selanjutnya, percakapan Bagus Muljadi dengan sejarawan Luthfi Adam membawa kita ke lapisan yang lebih kompleks. Kebun Raya Bogor, misalnya, tidak cukup dipahami sebagai taman botani atau destinasi wisata. Dalam sejarah kolonial, Kebun Raya Bogor merupakan pusat produksi pengetahuan mengenai tumbuhan sekaligus bagian dari jaringan ekonomi-politik kolonial.

Melalui siniar bertajuk “Relasi Kuasa dalam Sains” Luthfi Adam memperlihatkan bagaimana sejarah botani berkaitan erat dengan kekuasaan, perkebunan, komoditas, dan sirkulasi pengetahuan.

Laboratorium tidak selalu dibangun untuk kepentingan masyarakat Indonesia. Banyak pengetahuan mengenai tanah, tanaman, iklim, hutan, penyakit, dan geologi diproduksi dalam konteks kepentingan kolonial. Karena itu, mimpi besar Indonesia pada abad ke-21 bukan sekadar mengulang masa ketika ilmuwan asing datang meneliti Indonesia. Tantangannya adalah membalik posisi tersebut, yaitu Indonesia harus menjadi subjek produksi pengetahuan, bukan hanya objek penelitian.

Percakapan dengan Norbert Peeters memperluas pertanyaan tersebut dari etnobotani menuju filsafat alam. Bertajuk “Ketika Filsafat Bertemu Biologi”, pembicaraan mengenai tumbuhan dan George Everhardus Rumphius mengingatkan kita bahwa hubungan manusia dengan alam jauh lebih kompleks daripada sekadar hubungan antara sumber daya dan pemanfaat.

Rumphius sendiri merupakan contoh penting. Di Ambon, ia menghabiskan sebagian besar hidupnya mengamati dunia tumbuhan dan menyusun pengetahuan botani yang monumental. Kisahnya memperlihatkan bahwa Kepulauan Maluku bukan hanya gudang rempah, tetapi juga ruang epistemik – tempat pengetahuan tentang kehidupan tumbuh melalui interaksi panjang antara manusia dengan alam.

Damayanti Buchori membawa pertanyaan tersebut ke dunia serangga. Bertajuk “Kita Keliru Pahami Evolusi?” percakapannya dengan Bagus Muljadi dibicarakan dalam satu rangkaian pertanyaan yang berkaitan dengan nyamuk, lebah, evolusi, antroposen, kapitalisasi, sains, hingga posisi akademisi dalam masyarakat.

Seekor nyamuk yang selama ini dianggap mengganggu ternyata dapat membuka pertanyaan tentang evolusi, ekologi, kesehatan, bahkan filsafat kehidupan. Dengan demikian, laboratorium alam bukanlah gedung penuh peralatan canggih, melainkan cara memandang dunia.

Adilan Mahdiyasa menunjukan sisi lain dari kekayaan Indonesia, yakni berkaitan dengan gambut, karbon, bencana, matematika, dan kebijakan publik. Dalam percakapannya dengan Bagus Muljadi dalam Chronicles episode “Matematika sebagai Cara Berpikir”. Adilan menjelaskan bahwa matematika tidak berhenti sebagai rumus abstrak, tetapi dapat digunakan untuk memodelkan gambut, memprediksi bencana, dan membantu pemerintah mengambil keputusan.

Sementara itu, Adam Bobette membawa kita ke lereng Merapi. Bukunya The Pulse of the Earth: Political Geology in Java (2023) menunjukan bagaimana perkembangan ilmu bumi modern di Jawa tidak dapat dipisahkan dari perjumpaan antara geologi, vulkanologi, pengetahuan tradisional Jawa, agama, mistisisme, teknologi, dan politik kolonial. Mengusung topik “Jawa Bentuk Ilmu Bumi Modern”, intisari sekaligus gagasan yang sangat penting bahwasanya bumi Indonesia bukan benda mati yang menunggu dieksploitasi.

Gunung api menyimpan sejarah geologi, gambut menyimpan karbon dan sejarah iklim, hutan menyimpan evolusi kehidupan, laut menyimpan sejarah kebudayaan, dan masyarakat menyimpan pengetahuan yang terbentuk dan diwariskan dari generasi ke generasi. Tugas ilmu pengetahuan adalah belajar membaca semuanya.

Premana Premadi mengajak percakapan itu bergerak lebih jauh – dari bumi menuju kosmos bertajuk “Kenali Diri Lewat Semesta”. Menurut Premana, astronomi mengingatkan manusia bahwa Indonesia, dengan segala persoalannya, hanya bagian kecil dari semesta yang sangat luas. Pertanyaan tentang batas alam semesta sekaligus menjadi latihan intelektual untuk memahami keterbatasan manusia.

Kemudian Yudi Dharma membawa kita kembali ke bumi dan teknologi. Percakapannya dengan Bagus Muljadi bertajuk “Jarak Inovasi dan Realita” yang mebicarakan mengenai semikonduktor, inovasi, budaya keilmuan, dan komunikasi ilmiah menunjukan bahwa Indonesia tidak cukup hanya memiliki sumber daya alam. Indonesia membutuhkan budaya sains, budaya yang membuat ilmuwan mau menjelaskan pengetahuannya kepada masyarakat dan menjadikan penelitian sebagai bagian dari kehidupan publik.

Inilah salah satu persoalan terbesar Indonesia. Kita memiliki laboratorium alam yang luar biasa, tetapi belum memiliki ekosistem pengetahuan yang mampu mengolahnya menjadi kekuatan intelektual.

Pada titik paling dalam, percakapan Bagus Muljadi dengan Prof. Sangkot Marzuki mungkin merupakan salah satu kunci untuk memahami seluruh mimpi besar tersebut. Bertajuk “Indonesia Krisis Akal Sehat”, Direktur Lembaga Eijkman (1992-2014) tersebut mengingatkan bahwa sejarah sains modern Indonesia sebenarnya jauh lebih panjang daripada yang sering kita bayangkan.

Christian Eijkman, George Everhardus Rumphius, Alfred Russel Wallace, dan berbagai perkembangan ilmu pengetahuan menunjukan bahwa Indonesia menjadi ruang penting bagi produksi pengetahuan. Namun, persoalannya bukan hanya bagaimana menghasilkan ilmuwan, melainkan bagaimana membangun watak ilmiah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sains, dalam pengertian ini, bukan sekadar laboratorium, jurnal, sitasi, atau gelar akademik. Sains adalah kebiasaan bertanya, memeriksa bukti, mengakui ketidaktahuan, menguji asumsi, dan bersedia mengubah pendapat ketika bukti berubah. Jika demikian, mimpi menjadikan Indonesia sebagai laboratorium dunia sesungguhnya bukan mimpi tentang teknologi semata, melainkan tentang peradaban yang ingin berpikir.

Beberapa narasumber Chronicles yang menjadi pembahasan dalam tulisan ini bertemu pada satu kesimpulan: “Indonesia terlalu kaya hanya untuk menjadi objek pembangunan”. Karena itu, mimpi besar yang dibawa Chronicles bukanlah menjadikan Indonesia sekadar negara yang kaya. Mimpi itu jauh lebih ambisius, yakni menjadikan Indonesia bangsa yang mampu mengubah kekayaan fenomenanya menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi kebijaksanaan, dan kebijaksanaan menjadi peradaban.