![]() |
| Pemandangan pulau Maitara dan Tidore dilihat dari Ternate (Sumber: validnews.id) |
Ia datang dari balik kabut yang sejak pagi menggantung di lereng Gunung Tidore. Mula-mula hanya beberapa tetes, jatuh perlahan di antara tajuk pepohonan. Bunyi kecilnya nyaris tak terdengar, kalah oleh desir daun dan kicauan burung yang berpindah dari satu dahan ke dahan lain.
Lalu, dalam hitungan menit, rimba berubah.
Tetes-tetes itu menjadi deras. Tanah yang semula
kering mendadak mengeluarkan aroma khas hutan. Daun-daun lebar bergetar menahan
air. Batang-batang pohon menjadi licin. Jalan setapak yang sebelumnya masih
dapat dilalui dengan mudah berubah menjadi aliran kecil yang membawa tanah dan
serpihan daun menuju bagian lereng yang lebih rendah.
Di sini, hujan memang tidak pernah benar-benar datang
dengan permisi.
Di lereng Gunung Tidore, hujan adalah bagian dari
kehidupan. Ia menentukan kapan petani pergi ke kebun, kapan orang menanam,
kapan hasil hutan dapat dipanen, dan kapan jalan-jalan kecil menuju hutan harus
ditinggalkan untuk sementara.
Tetapi bagi rimba, hujan bukan sekadar cuaca.
Ia adalah denyut kehidupan.
***
Gunung Tidore berdiri seperti penjaga yang sejak lama
mengawasi pulau kecil di tengah Maluku Utara. Dari kejauhan, tubuh gunung itu
tampak kokoh. Namun ketika seseorang mulai mendaki lerengnya, wajah gunung
perlahan berubah. Laut yang tadi terlihat luas dari bawah semakin jauh.
Rumah-rumah penduduk mengecil. Suara kendaraan menghilang. Yang tersisa adalah
suara air, angin, serangga, dan sesekali suara burung dari balik pepohonan.
Hutan di lereng gunung bukan ruang kosong.
Ia adalah ruang hidup yang menyimpan banyak cerita.
Di antara akar, batang, daun, bunga, dan buah,
masyarakat telah lama mengenali tumbuhan yang tumbuh di sekeliling mereka.
Sebagian digunakan sebagai bahan pangan. Sebagian menjadi obat ketika tubuh
sakit. Ada yang dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, kayu bakar, perlengkapan
rumah tangga, hingga keperluan ritual dan kehidupan sosial.
Pengetahuan itu tidak selalu ditulis dalam buku.
Ia hidup dalam ingatan.
Seorang tua mungkin mengenali tumbuhan hanya dari bentuk
daunnya. Ia tahu bagian mana yang dapat digunakan, kapan sebaiknya dipetik,
bagaimana mengolahnya, dan bagian mana yang sebaiknya dibiarkan tumbuh.
Pengetahuan semacam itu kemudian berpindah kepada anak, cucu, atau anggota
keluarga lainnya melalui percakapan sederhana dan aktivitas sehari-hari.
Di kebun.
Di halaman rumah.
Di perjalanan menuju hutan.
Atau ketika seseorang jatuh sakit dan orang tua
berkata, “Ambil daun itu.”
Tidak ada ruang kelas. Tidak ada papan tulis. Tidak
ada ujian.
Hanya pengalaman.
Dan hutan menjadi gurunya.
***
Hujan semakin deras.
Saya menepi di bawah naungan pepohonan. Air menetes
dari ujung-ujung daun seperti ribuan jarum kecil. Tanah di bawah kaki mulai
lembek. Aroma humus semakin kuat. Sesekali terdengar suara buah jatuh dari
ketinggian, disusul bunyi gedebuk yang samar di balik semak.
Di tengah hujan seperti itu, seseorang dapat menyadari
bahwa hutan sesungguhnya tidak pernah diam.
Ada kehidupan yang bergerak tanpa terlihat.
Serangga mencari tempat berlindung. Burung berpindah
ke tajuk yang lebih rapat. Katak mulai bersuara dari balik rerumputan. Air
merembes melalui tanah, mengikuti celah-celah kecil di antara akar, kemudian
perlahan bergerak menuju bagian lereng yang lebih rendah.
Setiap tetes air seolah mempunyai perjalanan sendiri.
Hutan menangkap sebagian.
Tanah menyimpan sebagian.
Sungai membawa sebagian lainnya.
Siklus sederhana itu berlangsung terus-menerus, jauh
sebelum manusia mengenal istilah konservasi.
Karena itu, ketika hutan berubah, yang berubah bukan
hanya pepohonannya.
Air ikut berubah.
Tanah ikut berubah.
Hewan ikut berubah.
Dan pada akhirnya, kehidupan manusia pun ikut berubah.
***
Masyarakat yang hidup di sekitar Gunung Tidore
memahami hutan bukan semata-mata sebagai kumpulan pohon.
Hutan adalah sumber kehidupan.
Di sana terdapat pangan yang dapat dikumpulkan ketika
diperlukan, tumbuhan yang digunakan untuk pengobatan, kayu untuk berbagai
keperluan, serta ruang yang memiliki arti sosial dan budaya.
Hubungan manusia dengan tumbuhan juga tidak selalu
bersifat ekonomi. Ada tumbuhan yang dianggap penting karena penggunaannya dalam
kehidupan sehari-hari. Ada pula yang memiliki arti simbolis dan kultural.
Sebuah tumbuhan mungkin hanya tampak seperti semak
biasa bagi orang yang baru datang.
Namun bagi seseorang yang tumbuh bersama hutan,
tumbuhan itu bisa mempunyai nama, fungsi, cerita, bahkan sejarah.
Inilah yang membuat pengetahuan masyarakat tentang
tumbuhan menjadi sesuatu yang lebih besar daripada sekadar daftar nama spesies.
Ia merupakan bagian dari identitas.
Di dalamnya terdapat cara masyarakat membaca
lingkungan.
Mereka mengenali musim melalui perubahan tumbuhan.
Mereka memahami habitat berdasarkan jenis vegetasi yang tumbuh. Mereka
mengetahui lokasi tumbuhan tertentu tanpa harus menggunakan peta. Mereka dapat
membedakan tumbuhan yang bermanfaat dari tumbuhan yang harus dihindari.
Pengetahuan tersebut terbentuk melalui interaksi
panjang antara manusia dan lingkungan.
Dan interaksi itu berlangsung lintas generasi.
***
Namun zaman berubah.
Anak-anak kini memiliki dunia yang jauh lebih luas
daripada hutan di belakang rumah. Telepon pintar membuka jendela menuju
tempat-tempat yang bahkan tidak pernah dikunjungi. Informasi tentang obat dapat
ditemukan melalui mesin pencari. Makanan dapat dibeli tanpa harus mengenali
tanaman yang menjadi bahan dasarnya. Banyak kebutuhan rumah tangga dapat
diperoleh dari pasar.
Hutan perlahan kehilangan sebagian fungsinya dalam
kehidupan sehari-hari.
Bukan karena masyarakat tidak lagi membutuhkan hutan,
melainkan karena cara manusia memenuhi kebutuhan telah berubah.
Di titik inilah pengetahuan tradisional menghadapi
tantangan.
Jika sebuah pengetahuan tidak lagi dipraktikkan, ia
berisiko berhenti diwariskan.
Seorang anak yang tidak pernah diajak ke kebun mungkin
tidak mengenali tumbuhan yang diketahui orang tuanya. Generasi berikutnya
mungkin hanya mengenal namanya. Setelah itu, nama tersebut pun dapat hilang
dari ingatan.
Yang hilang bukan hanya sebuah nama tumbuhan.
Yang hilang adalah pengetahuan tentang hubungan
manusia dengan tumbuhan tersebut.
***
Hujan mulai mereda.
Kabut perlahan bergerak di antara pepohonan. Dari
sela-sela daun, cahaya matahari muncul tipis. Permukaan tanah yang basah
memantulkan cahaya. Air yang menempel di daun jatuh satu per satu, meskipun
hujan telah berhenti.
Rimba seperti baru saja selesai mencuci wajahnya.
Di kejauhan, suara burung kembali terdengar.
Gunung Tidore pun kembali menunjukkan wajahnya.
Tetapi ada sesuatu yang tertinggal setelah hujan:
kesadaran bahwa hutan tidak hanya menyediakan apa yang dapat kita ambil. Ia
juga menyediakan pengetahuan tentang bagaimana kita seharusnya hidup
bersamanya.
Masyarakat yang telah lama berinteraksi dengan lingkungan
memiliki cara sendiri dalam memahami keseimbangan itu. Mereka belajar dari
pengalaman bahwa alam mempunyai batas. Tumbuhan tidak selamanya tersedia. Hasil
hutan tidak selalu melimpah. Musim berubah. Habitat dapat rusak. Karena itu,
pengetahuan tentang kapan mengambil dan kapan membiarkan menjadi sama
pentingnya dengan pengetahuan tentang apa yang dapat digunakan.
Dalam konteks tersebut, pengetahuan ekologis
tradisional bukan sekadar peninggalan masa lalu.
Ia dapat menjadi bagian dari masa depan.
***
Di lereng Gunung Tidore, hujan akan terus turun tanpa
permisi.
Besok atau lusa, awan mungkin kembali berkumpul di
atas puncak. Air akan jatuh lagi di antara pepohonan. Tanah akan kembali basah.
Sungai-sungai kecil akan kembali mengalir.
Siklus itu tidak membutuhkan manusia untuk
mengingatnya.
Tetapi manusia membutuhkan ingatan untuk memahami
maknanya.
Sebab di tengah perubahan iklim, perubahan bentang
alam, tekanan terhadap hutan, dan semakin jauhnya generasi muda dari lingkungan
alam, pengetahuan tentang tumbuhan menjadi semakin berharga. Ia bukan hanya
cerita tentang bagaimana nenek moyang memanfaatkan alam, melainkan juga catatan
panjang tentang bagaimana sebuah masyarakat bertahan hidup bersama
lingkungannya.
Mungkin karena itu, menjaga hutan tidak cukup hanya
dengan menanam pohon.
Kita juga perlu menjaga pengetahuan tentang pohon.
Menjaga nama-namanya.
Menjaga cara mengenalinya.
Menjaga cerita tentang kegunaannya.
Dan yang paling penting, menjaga agar pengetahuan
tersebut tetap berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Hujan akhirnya berhenti.
Namun air masih menetes dari tajuk-tajuk tinggi. Jalan
setapak masih licin. Kabut belum sepenuhnya pergi.
Saya kembali melangkah menuruni lereng.
Di belakang, Gunung Tidore berdiri dalam diam.
Hutan menyimpan kembali suaranya.
Barangkali, begitulah cara rimba berbicara: bukan
melalui kata-kata, melainkan melalui hujan, daun, tanah, akar, burung, dan
manusia yang masih mau mendengarkan.
Dan selama masih ada orang yang berjalan ke dalam
hutan, mengenali tumbuhan, menyebut namanya, mengetahui manfaatnya, lalu
mengajarkannya kepada generasi berikutnya, selama itu pula rimba belum
benar-benar kehilangan ceritanya.
Di lereng Gunung Tidore, hujan memang turun tanpa
permisi.
Tetapi setiap kali ia turun, rimba seperti sedang
mengingatkan manusia bahwa kehidupan tidak pernah berdiri sendiri.
Ada air yang menghidupi tanah.
Ada tanah yang menghidupi tumbuhan.
Ada tumbuhan yang menghidupi manusia.
Dan ada pengetahuan yang mengajarkan manusia bagaimana
semuanya saling terhubung.
Hujan berhenti.
Rimba tetap basah.
Gunung tetap berdiri.

Media Sosial