![]() |
| Ketua Program Studi Konservasi Biodiversitas Tropika IPB University, Prof. Dr. Ir. Yanto Santosa., D.E.A |
Indonesia memang kaya akan sumber daya hayati, tetapi belum sepenuhnya mampu menggali nilai guna optimal dari kekayaan tersebut.
Sejak lama Indonesia telah dikenal sebagai negara mega
biodiversitas. Kekayaan flora, fauna, dan ekosistem tropika yang dimiliki
menjadi modal alam yang luar biasa besar. Namun, hingga kini status tersebut
masih lebih sering menjadi slogan ketimbang kekuatan nyata bagi kesejahteraan
masyarakat dan pembangunan bangsa.
Manfaat
keanekaragaman hayati belum sepenuhnya dioptimalkan, bahkan sebagian besar
potensinya belum benar-benar dipahami. Menurut Prof. Dr. Ir. Yanto Santosa,
selaku Ketua Program Studi Konservasi Biodiversitas Tropika (KVT) IPB
University, salah satu persoalan mendasar adalah keterbatasan pengetahuan dan
pemanfaatan ilmiah terhadap biodiversitas itu sendiri.
“Indonesia
memang kaya akan sumber daya hayati, tetapi belum sepenuhnya mampu menggali
nilai guna optimal dari kekayaan tersebut. Bahkan, tidak sedikit jenis
tumbuhan, satwa, maupun ekosistem yang fungsi dan manfaatnya masih belum
teridentifikasi secara komprehensif”, ujarnya.
Ia juga menambahkan, laju degradasi lingkungan menunjukkan sinyal yang mengkhawatirkan.
Sejumlah spesies dan ekosistem mengalami penurunan populasi secara drastis,
bahkan menuju kepunahan.
Kondisi
inilah yang menjadi dasar pentingnya kehadiran Program Studi KVT, sekaligus
secara tegas menempatkan konservasi sebagai fondasi utama dalam pengelolaan
keanekaragaman hayati tropika.
Double
Degree: Strategi Membangun SDM Unggul dan Adaptif
Sebagai
upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia, Program Studi KVT menghadirkan
program double degree sebagai langkah strategis. Program ini
berangkat dari realitas bahwa masyarakat Indonesia masih cenderung memiliki
pola pikir “luar negeri minded”, di mana pengetahuan dan teknologi asing sering
kali dianggap lebih unggul dibandingkan kemampuan bangsa sendiri.
“Masyarakat
kita sampai saat ini masih berpikir 'luar negeri minded' dang menganggap orang
luar (negeri) masih lebih baik ketimbang bangsa sendiri”, jelas Prof. Yanto.
Alih-alih
mengirim seluruh mahasiswa untuk menempuh pendidikan penuh di luar negeri
dengan biaya tinggi, skema double degree menawarkan pendekatan yang
lebih efisien dan relevan.
Menurut
Prof. Yanto, dengan skema double degree, mahasiswa cukup menempuh sebagian
studi di luar negeri, terutama untuk penguatan teori dan riset, sementara
penelitian dan penerapan lapangan dilakukan di Indonesia. Dengan demikian, ilmu
dan teknologi yang diperoleh menjadi lebih adaptif terhadap kondisi lokal dan
langsung dapat dimanfaatkan setelah lulus.
Baca juga : Hadirkan Program Double Degree, Prodi KVT IPB Gandeng Institut Agro-Montpellier Prancis
Program
ini juga membuka ruang kolaborasi dua arah. Tidak hanya mahasiswa Indonesia
yang belajar ke luar negeri, tetapi juga mendorong peneliti asing untuk
menerapkan hasil riset dan teknologi mereka di Indonesia. Dengan cara ini,
manfaat keilmuan tidak hanya mengalir ke negara lain, tetapi kembali dan
berkontribusi nyata bagi kepentingan nasional.
Dalam
pelaksanaan program double degree, Program Studi KVT telah menjalin kerja sama
dengan institusi bereputasi internasional. Salah satu mitra utama adalah
Institut Agronomi de Montpellier, Prancis, yang memiliki peringkat tinggi di
tingkat Eropa. Selain itu, kerja sama juga tengah dikembangkan dengan
University of Lorraine di Nancy, Prancis.
Melalui
kerja sama ini, mahasiswa berkesempatan memperoleh ijazah dari dua perguruan
tinggi yang diakui secara internasional. Hal ini membuka peluang kerja yang
lebih luas, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di kawasan Eropa dan
negara-negara lain yang mengakui kualifikasi tersebut.
Ajakan
untuk Generasi Muda Penjaga Biodiversitas
Menutup
pesannya, Prof. Yanto Santosa menegaskan bahwa Program Studi KVT tidak hanya
berfokus pada pemanfaatan sumber daya alam, tetapi juga menanamkan nilai-nilai
pelestarian dan perlindungan lingkungan. Mahasiswa dibekali pemahaman ilmiah
yang kuat agar mampu mengelola keanekaragaman hayati secara bijaksana dan
bertanggung jawab.
Menurutnya,
keanekaragaman hayati merupakan modal utama bangsa Indonesia yang memiliki
nilai ekologis, ekonomi, dan sosial yang sangat besar. Namun, keberlanjutan
potensi tersebut sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang
mengelolanya. Tanpa SDM yang kompeten dan berintegritas, kekayaan biodiversitas
berisiko mengalami degradasi dan kehilangan fungsi pentingnya.
Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University tersebut juga menekankan pentingnya pendidikan tinggi dalam mencetak
generasi yang mampu menjawab tantangan pengelolaan sumber daya alam di tengah
krisis lingkungan global. Program Studi KVT hadir sebagai wadah pembelajaran
yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, etika konservasi, serta pendekatan
berkelanjutan berbasis riset.
Oleh karena itu, generasi muda diimbau untuk mempertimbangkan Program Studi KVT sebagai pilihan strategis masa depan. Karena, negara membutuhkan banyak sumber daya manusia unggul yang mampu mengelola biodiversitas secara ilmiah, berkelanjutan, dan berorientasi global, guna memastikan kekayaan alam Indonesia tetap lestari dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

Media Sosial